Sigaret Dalam Kantong
Untuk memperkuat bentuk kantong kemeja :)
Untuk memperkuat bentuk kantong kemeja :)
Nemu di salah satu toko serba ada yang cukup lawas di Solo. Ketika beli kado, iseng cari kartunya sekalian tapi tidak niat menyelipkannya di bawah kertas kado. Eh nemu kartu ucapan ultah ini. Ya, coraknya jaman babe gue... Untuk mantan pacar yang mungkin sekarang jadi istrinya :D
Pas dinyalakan, baunya khas, bau sumbu minyak tanah yang terbakar.
Dibagian pengapit tutup teplok, tidak biasa, terdapat pola. Berbeda-beda tiap teplok. Ada lagi, teplok dengan penutup belakang berbentuk lingkaran dan biasanya ada foto wanita. Tapi sayang saya tidak punya. :D
Tumpukan kursi rotan ini siap diekspor. Pemilik pabrik berasal dari Sulawesi, kelola rotan di Trangsan - Jawa Tengah, daerah tujuan ekspornya Spanyol tapi 1 kursinya tidak dijual seharga 24 juta.
Lokasinya di depan pabrik perajin rotan. Ntah dulunya ruang berpintu ini dijadikan sebagai apa. Yang jelas, sekarang dipakai untuk menaruh sepeda jengki milik para pekerja.
Rumah burung dari rumput kering ini sudah tak berpenghuni. Tapi seperti kata pepatah, susuh tak jatuh jauh dari pohonnya. Tepat di atasnya adalah pohon mangga golek yang tahun ini tak menemukan musimnya. :(
Setelah kemarin melepas kangen dengan bermain keyboard (kembali) maka hari ini saya iseng-iseng untuk merekam permainan keyboard saya yang amat pas-pasan ini.
Namun di rumah saya tidak memiliki studio untuk merekam suara dari alat musik. Pertama saya menggunakan handphone untuk merekam namun hasilnya kurang apik. Sambil terus berlatih, saya kepikiran untuk menggunakan iPod gratisan saja untuk merekamnya, siapa tahu hasilnya jadi lebih sip.
Lalu, gimana cara pegangnya,kan tangannya sudah habis untuk main? Saya menggunakan tripod mini untuk kamera yang saya ambil dari "lemari ajaib Doraemon" disudut ruang kamar. Saya ambil kawat lalu mengikat iPod dengan tripod dengan bagian mic berada di bawah. Regangkan kakinya dan atur posisinya. Jadi deh....
Saya memainkan Let it be dari The Beatles dengan 3 kali percobaan atau istilah kerennya 3 kali take.
Kalau ada suara TV dan helaan nafas yang terdengar berat itu menandakan saya sedikit gugup... Sumpe, direkam itu tensinya lebih tinggi daripada main tanpa ada yang mendengarkan selain saya... :)
Sudah terlalu lama tak memainkannya. Setelah gitar dan bass, alat musik dengan tuts hitam putih inilah yang bisa mainkan. Dapat kursus setahun dari Yamaha Music dan berhenti karena akhirnya suka basket.
Hmm, untung buku partitur lagu dari kursusan masih saya rawat. Terdapat lagu Ajo Mamma dimana lagu ini paling suka saya mainkan karena melodinya yang dinamis dan riang.
Tadi, jam 8 saya mencoba memainkannya kembali. Banyak not yang meleset. Selain tangannya yang kaku, mata saya tak sejeli dulu dalam membaca partitur.
Mungkin salah saya, harusnya dipilih lagu yang level A dengan tempo lambat dan not yang renggang untuk memulainya kembali. Eh, kok ya malah milih level C. Habis suka sih... :)
Atap seng bergelombang yang mengalirkan air hujan seolah mengubahnya menjadi tirai air di teras rumah. Beruntung, sinar matahari yang keemasan tidak tertutup mendung dan menjadikannya hujan sore yang indah :)
Savitri, adalah petunjukan tari pertama yang saya tonton. Bisa menikmati? Sedikit.
Telinga lebih dikuasai oleh bunyi shutter kamera DSLR yang seolah sedang menembaki para penari di panggung.
Berbeda dengan kamera ponsel saya yang tanpa suara. Tapi hasilnya juga tak mampu berbicara banyak. Sekedarnya dengan modal edit sana-sini. :D